Sabtu, 04 Mei 2013

The Tielman Brothers


Musikalitas Tingkat Dewa


ketika iseng berselancar di alam maya,  aku penasaran terhadap band legendaris indonesia, seketika itu juga, aku ketik keyword di papan searching nya mbah google, “band legendaris indonesia” setelah si mbah komat-kamit, akhirnya muncul beberapa tawaran  yang saat itu aku buka satu persatu, aku yakin saat itu deretan nama seperti koesplus, god bless, d’lloyd, panbers, bimbo, dan kawan-kawan musisi sejamannya hadir dalam jejeran band legendaris indonesia. dan sepertinya dugaanku diamini situs http://rahadianmf.blogspot.com/2012/04/10-band-legendaris-indonesia.html , beberapa daftar nama band terduga, yaaa, bahkan semua orang bisa menduganya, hadir dalam jejeran 10 band legendaris indonesia.  
pencarianku tak berhenti sampai di satu tempat, aku berjalan lagi, tengok kanan-kiri, dan http://setya-wa2n.blogspot.com/2012/08/5-grub-band-legendaris-di-indonesia.html , datang tawarkan barang. (hehe sori lebay)... di tempat itu aku menemukan 5 band paling berpengaruh di indonesia, dalam hati “pasti ga beda sama tempat pertama yang kusinggahi”, dan ternyata benar, beberapa nama memang tetap mengisi baris band legend indonesia. Seperti koesplus, bodblees, bahkan ada tambahan slank dan pasband. Tapi yang menempati posisi 1 di isi oleh The Tielman Brothers. Nah lo??
Saat itu bangga dan heran ketika membaca sedikit catatan dalam deskripsi profile The Tielman Brothers. Dalam situs itu tertulis : Grup band Indonesia-Belanda ini pernah meraih sukses di pasar Eropa di era 1950-an. Bahkan ketenarannya bersama aliran rock n’ roll ini jauh sebelum The Rolling Stones dan The Beatles berjaya, Herman Tielman asal Kupang dan Flora Lorine Hess asal Semarang.
 Bangga karena sebagai rock n roll mereka bukan pengekor, dan heran kenapa grup tingkat dewa ini tidak setenar koesplus, god bless dan kawan-kawannya ??? (di generasi sekarang)
           
Sekilas tentang The Tielman Brothers

 menurut anda?

The Tielman Brothers memang sebuah grup musik yang secara skill sudah tidak diragukan, bahkan mereka sudah masuk ke wilayah jiwa yang absolut, kegundahan mereka tak terbantahkan, meminjam istilah abg sekarang “musikalitas tingkat dewa” ketika di tanya mengenai kualitas musikal The Tielman Brother.
dalam hal ini, saya ingin memunculkan kembali sejarah yang hilang, ingin mempropagandakan spirit musikal TTB yang mati suri, agar insan musik Indonesia menemukan benang merah dari kemegahan musik yang di usung oleh TTB. 

Untuk artikel terkait boleh cek di sumber.


             

Kamis, 02 Mei 2013

Save Religion


Menyelamatkan Agama
Oleh Agoest Purnomo

Mempelajari sebuah agama sama sulitnya dengan membuka diri untuk menerima doktrinnya. Hidup di era tanpa nadzir seolah menjadi keniscayaan akan kehausan kita untuk memperoleh kebenaran. Kealfaan nadzir membuat kita seolah berada dalam hutan dengan separuh peta yang hilang, dan kita dituntut untuk bagaimana agar bisa keluar dari hutan, atau paling tidak, bagaimana cara untuk bertahan hidup di dalam hutan. Kelihatannya sederhana, namun menurut hemat saya sebagian besar orang memilih pilihan kedua. Melihat keadaan, dimana setiap golongan maupun individu lebih tertarik untuk memapankan faham untuk menghegemoni di ranah pemikiran umat manusia dengan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Merupa “Hukum rimba”, nampaknya istilah itu pantas di sematkan untuk  manusia “kuat” dan betah hidup di hutan.

Separuh peta yang hilang

Melihat keadaan dimana setiap individu maupun golongan berlomba memapankan faham yang di anutnya tentang kebenaran suatu agama. Pluralisme agama hadir sebagai sosok yang menjembatani perbedaan, plurasime agama mencoba berdamai dengan keniscayaan akan keberagaman. Wahib menegaskan dalam catatan harian 6 Mei 1970, “kalau kita berani berkata bahwa orang yang beragama non-Islam itu masuk neraka, atau seorang pencuri itu tidak masuk surga, maka hal itu berarti bahwa kita telah berani memegang jabatan Tuhan, sebab hanya Tuhanlah yang tahu kemana tiap-tiap orang itu akan dimasukan”. Wahib hendak mengatakan bahwa agama bukan bentuk pelegalan kita untuk memberikan “cap” negative terhadap orang-orang di luar faham yang kita anut. Sikap ingin menang sendiri tidak lain adalah bentuk pengerdilan Tuhan yang Maha Besar. Keimanan tidak dapat di lihat dari seberapa panjang jenggot atau seberapa hitam jidat seseorang. Manifestasi keimanan yaitu terjadinya perilaku yang selaras dengan tujuan suatu agama, yakni keberadaan kita, menjadi rahmat bagi sekalian alam.
            keimanan, menurut Schuon adalah sifat yang menerjemahkan entah positif entah negative data yang diberikan oleh kebenaran ke dalam tindakan-tindakan. Oleh karena itu, iman bukan semata-mata kepastian dalam fikiran saja, melainkan kepastian yang mencakup dan meyangkut setiap nadi kehidupan kita”. Maka,  Keimanan berperan aktif dalam kehidupan kita, baik sebagai cara pandang kita terhadap sesuatu (perspektif) maupun cara kita bertingkah laku dalam menyikapi sesuatu (praksis). Kita sepakat menyebutnya agama. Schuon juga mengelompokan sikap keberagamaan manusia menjadi dua golongan yaitu para pencari pahala dan para pencari yang hakiki. Dari kedua golongan ini, para pembaharu islam dengan semangat berfikir yang tidak di batasi oleh doktrin, berusaha mendekati yang hakiki dengan sikap kritis, pengalaman religius dan disiplin filsafat yang baik. Jika dari ketiga instrument yang digunakan dalam pencarian menuju yang hakiki, salah satunya tidak di ikut sertakan, Karen Amstrong menyebutnya “seperti makan sayur sop, dengan menggunakan garpu”.
Para pencari yang hakiki akan dihadapkan dengan kondisi dimana kebebasan seolah menjadi barang mewah dalam memahami agama, para pencari yang hakiki dihadapkan dengan para pencari pahala yang secara psikologis memungkinkan bagi golongannya untuk bersikap refresif terhadap golongan diluar faham yang di anutnya. Ada saran menarik yang di tuangkan mas Wahib dalam catatan harian 10 april 1972, “…umur pembaharuan di kalangan muslim masih terlalu muda. Karena itu saya sangat khawatir bila dia menyibukan diri untuk:
1.      Menangkis dan menyerang muslim-muslim tradisional dengan faham-fahamnya yang sudah lama tersusun
2.      Untuk menyebarkan pikiran-pikirannya yang notabene belum matang, belum lengkap dan jauh dari utuh.
Karena itu sebaiknya kaum pembaharu memusatkan diri pada ketekunan pemikiran dan
perenungan dalam suatu grup kecil untuk mengolah dan mengembangkan konsep-konsep yang ada agar relatif matang, lengkap dan utuh”. 
Dibutuhkan mekanisme keberagamaan yang sejalan dengan tujuan mulia masing-masing agama.  Stabilitas sebuah negara akan terjaga ketika supermasi hukum berjalan searah dengan tujuan bangsanya. Begitupun agama, membutuhkan mekanisme keberagamaan yang sejalan dengan tujuan agamanya, agar sebuah agama berperan sesuai porsinya. Dalam islam, kita menyebutnya syariat.
Syariat menurut Al-Ashmawi adalah sebuah jalan dan gerak langkah yang selalu dinamis dan membawa manusia pada tujuan-tujuan yang benar dan orientasi-orientasi etis yang mulia. Ketika kita berusaha membenturkan dengan konteks keberagamaan dan keberagaman, kesucian syariat akhirnya dipertaruhkan ketika apa yang menjadi tujuannya dinodai tindakan atas nama kebenaran oleh masing-masing sekte fundamental. Masing-masing sekte berusaha memapankan faham yang dianutnya dan seolah menjadi juru tafsir mutlak yang keputusannya tidak bisa di ganggu gugat.
Kemutlakan tersebut di anulir Nietzsche dengan menyatakan “keyakinan yang kuat sebenarnya adalah masalah psikologi dan pengalaman sempit dan terbatas”. Nietzsche juga menyatakan dalam aforismenya tentang kebenaran bahwa “Fakta kebenaran ‘pada dirinya’ tidak ada. Yang ada hanyalah interpretasi dan perspektif. Maka, dengan sendirinya tidak ada kebenaran dunia yang tunggal. Penafsiran itu tidak menghasilkan makna final, yang ada hanyalah pluralitas”.
Jika masing-masing sekte terus berusaha mencari perhatian guna menarik simpatisan dengan doktrin infantil, lalu apa fungsi Pikiran yang oleh Arkoun wilayah kerjanya di bagi menjadi tiga yaitu wilayah akal yang bekerja di wilayah keilmuan dan kebudayaan, imajinasi, dan memori ?

Gerilya melawan kemapanan

Agama telah dijadikan alat oleh manusia untuk mencapai tujuan yang di tunggangi nafsu, politisasi agama berlangsung, baik di lingkungan berlebel agama maupun dalam hal memenuhi kehendak manusia untuk berkuasa. Al-Quran sebagai pedoman umat islam tidak lebih dari sekedar pelegal pemenuhan kebutuhan hawa nafsu, baik golongan maupun individu dari generasi sejak di turunkannya Al-Quran hingga generasi sekarang.
Menurut Arkoun, “dalam khazanah islam (tafsir islam) dengan segala mazhab serta alirannya, sesungguhnya Al-Quran hanya merupakan “alat” untuk membangun teks-teks lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan selera suatu masa tertentu, setelah masa turunnya Al-Quran itu sendiri”. Dengan tafsir Arkoun mengenai mekanisme penafsiran Al-Quran, Nasib agama persis dengan apa yang ditafsirkan Feuerbach bahwa agama lahir dari proyeksi manusia itu sendiri, agama merupa berhala yang diciptakan di ranah pemikiran untuk kemudian menjadi objek atas ketidakberdayaan manusia. Agama adalah bentuk keterasingan manusia terhadap hakikat manusia itu sendiri.
Sumbangsih Feuerbach mengenai agama, cukup merangsang agresifitas akal untuk menemukan sesuatu yang jauh lebih esensial mengenai agama. Sekaligus mendobrak doktrin yang selama ini membatasi gerak akal untuk menemukan sosok, yang oleh Goenawan Mohammad menyebutnya “Yang Maha Lain” yang kita mengerti dan mengerti kita. Alih-alih berusaha mendekatkan diri dengan cara pemaksimalan fungsi pikiran, cap kafir dapat dengan mudah kita peroleh.
Fazlur Rahman mengkritisi sikap fundamental dengan mengatakan bahwa “sikap fundamental yakni mendorong ke arah pemiskinan intelektual karena pandangan literal dan tekstual yang tidak memberikan apresiasi terhadap kekayaan khazanah ke-islaman klasik yang kaya dengan alternative pemikiran”. Kesalahan kaum fundamental dalam memaknai agama, yakni agama dijadikan sebagai cara pandang kita melihat sesuatu, memaknai agama sebagai perspektif hanya akan menciderai nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Hidup di era tanpa “pemberi peringatan” menuntut kita untuk bersikap eklektif dalam memahami sebuah agama. Hal ini yang kemudian memberikan lahan untuk menemukan mode keberagamaan yang sesuai dengan zamannya.

Penutup
Agama adalah sebuah bentuk pertanggung jawaban atas keyakinan yang di peroleh berdasarkan pengetahuan yang kemudian melahirkan keimanan. Sejalan dengan filsafat, agama berorientasi mencetak manusia menuju taraf “manusia bijaksana”. Agama memiliki dua mata pisau yang berbeda, di satu sisi agama merupa media atau instrument yang menghubungkan seorang manusia dengan tuhannya, di sisi yang lain agama merupa tuhan yang kadar tendensinya melebihi tuhan itu sendiri. Pemujaan agama, sikap yang selama ini membuat citra agama merupa copet yang secara diam-diam mengambil puing kebersamaan.
            Pada dasarnya, setiap agama mempunyai orientasi yang sama, yakni menjadikan manusia menuju taraf “manusia bijaksana’. Manusia hasil cetakan agama visioner mempunyai sikap yang senantiasa menghormati dan menghargai perbedaan.
Ridwan dalam detik-detik pembongkaran agama menyebutnya “agama kebajikan” sebuah perspektif yang berorientasi menjadikan praksis kebajikan sebagai dasar dalam mengukur keberagamaan: visi keselamatan agama dan upaya mencari solidaritas multi agama, ada dalam “kebajikan” ungkapnya.  
 Agama harus diselamatkan, citranya harus diperbaiki, agar jiwanya tetap hidup dan kita bisa menjiwai sebuah agama. Menjiwai sebuah agama tidak lain adalah upaya menyelamatkan kejiwaan kita. Rekonstruksi harus terjadi, agar agama tetap diminati oleh semua kalangan. Sejarah telah mencatat, bahwa kelinglungan dalam beragama menjadi pemicu utama terjadinya konflik, baik antar agama maupun antar golongan dalam sebuah agama. Untuk itu, diperlukan secara kaffah pula ketika menguliti sebuah agama, agar memaknai agama bukan hanya sekedar agama inheretansi. Melainkan sebuah keimanan yang harus dipertanggung jawabkan.
 Agama harus di telanjangi, agar anatomi yang selama ini terbungkus oleh pakaian yang setiap orang bebas memakaikannya, menjadi bagian yang dengan fulgar kita fahami, dan menemukan titik ideal dengan pakaian “keselamatan” yang pada akhirnya menjadi pelindung dari persfektif "cabul" baik kelompok maupun individu.
Kealfaan nadzir memang menuntut kita untuk menjadi manusia “kuat” dan memang hidup di hutan. “Separuh peta yang hilang” merupakan sebuah usaha untuk menyematkan makna dari setiap laku kita, baik dari hal terbesar dan hal terkecil sekalipun. Memberikan peluang berfikir bebas kepada akal, menolong kita melepaskan diri dari doktrin-doktrin infantil dan membuat kita lebih kritis pada kebiasaan-kebiasaan. “Tuntutlah ilmu sejak lahir hingga akhir hayat” (hadist), Nabi Muhammad SAW hendak mengajarkan bahwa, meminjam catatan wahib 1 Desember 1969, “Aku adalah meng-aku yang terus menerus berproses menjadi aku”